Disrupsi (Lagi)



Disrupsi menjadi kata yang makin lazim diucapkan banyak orang. Kata ini bisa berarti hal yang tercabut dari akarnya, seperti dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata ini juga bisa diartikan sebagai gangguan, atau masalah yang menyela suatu kejadian, kegiatan atau proses.
Sejatinya kata ini lebih banyak disematkan pada perkembangan teknologi yang mengganggu status quo lembaga-lembaga keuangan. Perbankan, utamanya, langsung merespons karena khawatir (dan banyak juga analisis yang memprediksikan) bahwa lembaga itu akan digantikan dengan layanan teknologi. Dan pada akhirnya menghapus keberadaan bank.
Hal itu disimpulkan dari pengalaman , misalnya, produsen fotografi film yang pada awal-awal 80-an menguasai lebih dari separo market dunia. Kemudian pada pertengahan 90-an muncul teknologi digital. Saat itu Kodak menganggap digital sebagai teknologi yang amatir dan tidak bakal bisa menggantikan keindahan dan ketajaman foto manual, karena saat itu resolusinya masih 0,1 Mega Pixel.
Namun fase disrupsi terjadi. Di luar kendali Kodak, tiap 18 bulan, ketajaman foto digital naik 2 kali lipat secara eksponensial. Dan pada saat ketajamannya mencapai 2 Mega Pixel, kualitasnya sudah sama dengan foto analog. Saat itulah Kodak mulai terdisrupsi.
Bank belajar banyak dari kejadian itu dan segera merespons teknologi digital di industri sejak awal kemunculannya agar tidak terdisrupsi. Awalnya bank membuat layanan yang ‘sebagian digital’ agar pasar dan juga perannya tidak tergerus. Akan tetapi kemudian bank menciptakan layanan berbasis teknologi yang ‘sepenuhnya digital’. Seperti yang diluncurkan beberapa bank.
Disrupsi atau gangguan ternyata tidak hanya dalam praktik keuangan, dalam informasi pun proses itu sedang mewabah. Saat ini informasi tengah membanjiri pikiran kita dan memerlukan keahlian khusus untuk dapat menyimpulkan hal itu sebagai fakta yang benar, bukan fakta yang dipelintir atau bahkan yang diputarbalikkan. Kita dituntut untuk segera meresponsnya agar informasi itu tidak mendisrupsi pikiran kita.
Seorang jahat bisa menjadi baik dipikiran publik jika informasi yang selalu disebar melalui media-media mengatakan bahwa dia baik. Pada saat awal mungkin kita tidak tahu apakah informasi itu benar atau salah. Tetapi ketika hal itu ditanamkan berkali-kali ke benak kita, bisa jadi kita akan menerima seperti keinginan si penyebar berita. Pikiran orang-orang pun kemudian terdisrupsi.
Jika pikiran sudah terdisrupsi maka apapun yang dikatakan atau dilakukan orang tersebut akan selalu baik di mata kita, padahal tanpa kita sadari dia sedang membohongi, menipu dan menelikung kita.
Ketika disuguhkan pendapat yang sepertinya tepat dan sangat masuk akal yang disebarkan media, kita langsung percaya dan mendukung. Padahal kalau kita mau sedikit menggunakan logika bahkan yang paling sederhana, kita akan mengetahui bahwa pendapat itu melanggar akal sehat dan juga (mungkin) melanggar hukum.
Sama seperti yang dilakukan bank, kita sebaiknya menyiapkan strategi untuk menanggapi perkembangan yang men-‘disrupsi pikiran’ itu. Caranya bisa bermacam-macam. Salah satunya, kita harus membaca informasi itu kembali secara utuh, mencari referensi dan pendapat yang tepat dari ahlinya. Dan yang lebih penting lagi, gunakan otak kita secara benar untuk menelaah informasi tersebut. Kemudian manfaatkan hati kita secara optimal untuk memahami informasi tersebut.
Karena jika tidak, maka jangan kaget ketika suatu saat ini proses disrupsi pikiran itu justru akan mengikis bahkan menghilangka akal sehat kita. Seperti foto dan film digital yang mendisrupsi Kodak. Dan memaksa Kodak kini hanya tinggal nama saja.

(DIPUBLIKASIKAN FEB-MAR 2018)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase