Perubahan dan Penyangkalan


Jika sepuluh atau dua puluh tahun lalu kita masih jarang merasakan adanya perubahan besar, maka saat ini perubahan itu bisa terjadi setiap bulan bahkan setiap pekan. Perubahan yang saya maksud adalah perubahan yang memaksa kita mengubah, minimal membuat kita menyesuaikan cara hidup kita.
Teknologi informasi adalah perubahan yang terjadi dalam hitungan tahun bahkan bulan. Beberapa dari kita yang mungkin baru memahami secara dangkal apa itu teknologi digital sudah harus disuguhi oleh financial technology. Belum sempat kita mengerti atau mencoba apa itu fintech, kini sudah muncul lagi teknologi blockchain (yang sebelumnya sudah didahului oleh mencuatnya mata uang digital yang bernama Bitcoin).
Pemahaman kita soal perubahan seringkali tidak sejalan dengan perubahan itu sendiri. Apalagi jika menghitung bagaimana respons kita terhadap perubahan. Kadang masih terpaku untuk memilih apakah perubahan yang sedang terjadi itu merupakan sesuatu yang ‘menetap’ atau ‘akan pergi begitu saja’. Pemahaman kita akan pilihan itu akan menentukan respons yang kita pilih.
Jika kita menganggap bahwa perubahan itu memang akan bertahan, artinya hal itu akan membuat banyak orang dan khalayak umum menyesuaikan diri, maka kita baru akan tergerak untuk menyesuaikan. Sebaliknya jika kita menyimpulkan bahwa perubahan yang sedang terjadi itu hanya sementara maka kita bisa saja mengacuhkannya.
Respons kita akan segala sesuatu sangatlah penting. Respons itu juga sekaligus sikap kita dalam memperhitungkan risiko di masa depan sekaligus menghitung peluangnya. Sebuah pepatah China mengatakan “Ketika ada badai angin, seseorang bisa membuat tembok tinggi nan tebal, ada pula yang membuat kincir”.
Sikap pertama yaitu membangun tembok tinggi menandakan langkah untuk meminimalisir risiko. Akan tetapi pilihan kedua yaitu membuat kincir menandakan langkah untuk memanfaatkan peluang.
Apapun yang kita hadapi dalam hidup sejatinya menyembunyikan dua hal, risiko dan peluang. Sebaik-baiknya sikap untuk menghadapi perubahan adalah jangan menafikan perubahan itu apalagi menyangkalnya.
Mempelajari, memahami dan kemudian mengambil manfaat sekaligus menjaga diri dari risiko yang mungkin timbul adalah langkah terbaik selanjutnya. Meski begitu, banyak juga orang yang melihat sisi risikonya saja, sementara yang lain melihat sisi manfaatnya saja.
Kini, ketika perubahan yang sangat cepat terjadi dalam teknologi informasi, respons yang dapat dilihat dari pelaku industri juga otoritas di Indonesia boleh dibilang masih lamban. Parahnya lagi ada juga pihak yang masih menyangkal adanya perubahan, dan berbagai dampak yang bisa ditimbulkannya.
Seorang psikiater Swiss, Elisabeth Kübler-Ross, menyusun sebuah model dari penelitiannya mengenai dampak susulan yang harus dilalui seseorang yang selalu menyangkal (denial). Pertama, tahap marah atau ngamuk karena menemukan fakta-fakta yang tidak sejalan dengan keinginan-keinginan, pengharapan-pengharapan dan keyakinan-keyakinannya.
Kedua, tahap tawar-menawar, ketika dia mau sedikit berkorban namun tetap mengharapkan yang diyakininya tetap akan terjadi. Ketiga, tahap depresi. Setelah tahap tawar-menawar gagal, dia akan masuk ke dalam tahap tekanan jiwa yang besar. Tahap ini adalah tahap paling sulit untuk keluar dari penyangkalannya atas fakta-fakta.
Keempat, tahap pasrah. Akhirnya dia akan  menerima kenyataan yang pahit dan berat, kendatipun kenyataan ini tidak sejalan dengan semua keinginan dan harapannya.
Memang tahap-tahap yang dikemukakan Kübler-Ross hanya terjadi pada individu-individu berdasarkan hasil risetnya. Tetapi bukan tidak mungkin itu juga terjadi pada institusi keuangan maupun otoritas.


(DIPUBLIKASIKAN MAR-APR 2018)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase