Kata-Fakta-Rasa


Ketika dunia telah berubah dari yang pernah ada sebelumnya, fenomena yang ada pun tak lagi sama. Kini kata-kata makin mudah tumpah dan membanjiri horison informasi kita. Kata-kata yang dimaksudkan di kalimat sebelumnya, tidak hanya yang diucapkan namun juga yang ditransmisikan lewat jari jemari menjadi tulisan.
Talk is cheap, sebuah idiom yan bernuansa ironi, makin menemukan momentumnya ketika media sosial makin erat bergandengan tangan kebiasaan hidup sebagian besar orang. Inilah yang membuat orang yang hidup di zaman ini menghadapi kesulitan yang lebih besar dibandingkan pendahulunya yang hidup dua atau tiga dekade sebelumnya. Terutama dalam hal mendapatkan kebenaran.
Kata-kata yang membanjiri lini informasi menjadi makin sulit kita masukkan ke kantong-kantong pikiran dan nurani kita sebagai sebuah kebenaran. Dibutuhkan saringan yang jauh lebih besar dan jauh lebih rapat dan jauh lebih kuat untuk membedakan mana kata-kata yang benar mana yang salah.
Fakta –untuk mengatakan kata-kata yang memang sesuai dengan kenyataannya–memang  menjadi barang yang mahal di tengah maraknya informasi serampangan yang hilir mudik menghampiri kita. Kalaupun ada ia seringkali dipelintir untuk kepentingan segelintir.
Kondisi di atas makin intensif terlihat di saat waktu pemilihan umum untuk memilih presiden makin dekat. Bahkan pada debat calon presiden yang disaksikan publik pada Februari lalu, kata dan fakta, dua frasa yang kerapkali kita harapkan selalu bersama, seringkali berpisah jalan.
Publik merespons terhadap kata-kata yang terlontar terkait angka dan klaim, secara kontan dalam waktu yang sangat berdekatan. Sontak saja setelah debat itu muncul banyak perbandingan antara kata yang terlontar dalam debat dan fakta yang ada di lapangan. Sekali lagi, antara kata dan fakta banyak yang masih tak sejalan.
Memang setelahnya banyak ralat dan revisi bahkan pembelaan soal salah data yang diucapkan dalam debat. Akan tetapi hal itu berbahaya karena menempatkan publik seolah sebagai pihak yang lugu, tidak paham, bahkan bodoh.
Di saat seperti inilah publik tidak lagi hanya butuh saringan informas yang lebih masih, tetapi juga pihak lain yang bisa mengafirmasi bahkan mengkonfrontasi fakta dan data yang beredar di semesta informasinya. Jika tidak banyak akan terjebak dengan kata yang berisi data yang seolah-olah adalah fakta.
Fakta yang dalam bahasa latin (factus) berarti segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia, seringkali juga dianggap sebuah kebenaran. Padahal itu bukanlah sebuah proses garis lurus.
Di era digital dan Big Data seperti sekarang ini mudah bagi satu pihak untuk menerbitkan informasi yang seolah-olah sebuah kebenaran, yang bertujuan untuk menjadi anti-tesis dari informasi-kebenaran yang sebelumnya telah beredar.
Jadi informasi yang diterima oleh panca indera kita belum tentu sebuah fakta, dan fakta yang kita terima belum tentu sebuah kebenaran. Dalam dunia serba digital sekarang ini, informasi ditumpahkan begitu derasnya sampai-sampai kita kewalahan untuk memahaminya dan kemudian menyimpulkannya sebagai fakta. Namun untuk kemudian menganggapnya sebagai sebuah kebenaran, tentu memerlukan daya pikir dan daya filter yang lebih hebat lagi. Akan tetapi banyak dari kita kemudian menyerah dengan derasnya fakta yang dijejalkan itu dan lalu memaksa kita untuk menganggapnya sebagai sebuah kebenaran.
Untuk membedakan kebenaran dan pseudo-kebenaran kita membutuhkan rasa. Karena kebenaran melulu adalah soal rasa yang diarahkan oleh hati yang memang telah diisi oleh pengetahuan dan pemahaman. Itulah mengapa kita harus dituntut selalu menggunakan hati dan akal sehat. Karena mengharapkan hilangnya gap antara kata dan fakta di zaman seperti ini seperti mengharapkan kita sendiri tidak menggunakan teknologi.


(dipublikasikan Jan-Feb 2019)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase