Perubahan


Satu-satunya yang tidak bisa ditolak adalah perubahan. Dan di waktu-waktu belakangan ini banyak sekali perubahan yang terjadi di sekeliling kita dan terasa begitu cepat. Perkembangan teknologi digital membuat perubahan-perubahan terjadi dalam kecepatan yang belum pernah terjadi di masa-masa sebelumnya.
Teknologi digital juga telah menyentuh, mendekap, dan bahkan mengubah sendi-sendi bisnis dan bahkan kehidupan. Hampir semua lembaga dan institusi, dengan terpaksa atau sukarela kini sudah mengadopsi, sebagian atau seluruhnya, teknologi digital pada proses produksinya atau proses jualannya.
Akan tetapi bukan perubahan itu yang akan menjadi pembahasan kali ini. Sekitar dua bulan lalu kita sudah melaksanakan pemilihan presiden untuk memimpin negara ini lima tahun ke depan. Beberapa bulan sebelum itu, publik banyak melihat perubahan-perubahan terkait itu. Mulai dari perubahan kampanye dan praktik demokrasi, meski baru sedikit.
Dahulu kita melihat, bertahun-tahun lalu dalam praktik pemilihan umum, jika seseorang atau kelompok orang ingin berkampanye biasanya dia atau mereka memanggil artis Ibukota, plus disiapkan amplop atau minimal kaos. Tujuannya tentu agar makin banyak massa yang berkumpul mendengarkan program-program yang akan ditawarkan calon tersebut.
Pada pemilihan pemimpin lima tahunan kali ini, publik mulai melihat bahwa seorang calon bisa mendatangkan massa yang demikian besar tanpa embel-embel itu semua. Publik juga bisa melihat bagaimana rakyat pendukung justru mengeluarkan dana demi mendukung dan membuat alat peraga kampanye, sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi di masa lalu. Kondisi ini sejatinya adalah sifat dasar bangsa, atau bahasa kerennya adalah kearifan lokal.
Lalu apa yang membuat kondisi itu bisa terjadi, mengapa kebiasaan rakyat dalam masa kampanye yang selama ini umum terjadi, bisa bergeser –meski belum terjadi pada semua calon? Faktor pendorongnya tidak lain adalah perubahan. Tampaknya publik banyak yang menginginkan adanya perubahan.
Namun, sudah takdir Yang Kuasa, berdasarkan perhitungan panitia pemilihan, tidak ada perubahan dalam kepemimpinan negara. Karena pemimpin sebelumnya berhasil memenangkan kontestasi pemilu, mengalahkan penantangnya.
Akan tetapi, sejatinya, terpilihnya kembali pemimpin sebelumnya tidak mengindikasikan bahwa tidak akan ada perubahan sama sekali. Kemungkinan besar tetap ada perubahan terutama dalam kebijakan ekonomi, apalagi program-program ekonomi yang ditawarkan pada masa kampanye tahun ini, banyak berbeda dengan yang ditawarkan pada lima tahun lalu.
Meski begitu, tetap saja kekhawatiran bergayut di sebagian benak publik bahwa cara-cara, pola-pola, dan nuansa yang dipakai oleh pemimpin terpilih akan sama seperti yang berlaku dalam lima tahun belakangan.
Pada akhirnya target-target makro ekonomi menjadi banyak yang meleset, apalagi tantangan global dan domestik lima tahun mendatang tidak bertambah mudah. Apalagi bekal yang digenggam pemerintah masih relatif sama.
Pertumbuhan ekonomi misalnya, yang sempat dijanjikan bakal meroket ke angka tujuh persen, tampaknya makin sulit diwujudkan. Bahkan angka enam persen saja bakal sulit terjadi jika tidak ada perubahan struktural yang dilakukan.
Hal itu bahkan diakui dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF), milik Kementerian Keuangan. Disebutkan bahwa tanpa ada reformasi struktural perekonomian terutama peningkatan kualitas SDM dan Inovasi, maka ekonomi hanya akan tumbuh 5 persen, dan hal itu akan menjadi sesuatu yang normal bagi Indonesia.
Dalam Teori Ekonomi Pembangunan, ada pembahasan mengenai dorongan besar untuk mendongkrak perekonomian, yang tampaknya dibutuhkan oleh perekonomian Indonesia. Big push bisa dilakukan dalam waktu yang relatif lebih dan menghasilkan output yang cepat yaitu dengan upaya serius reindustrialisasi, menata ulang kebijakan sektor pertanian, serta mengoptimalkan sektor jasa pariwisata dan ekonomi kreatif.
Jika itu yang dipilih maka kita bisa berharap bahwa akan ada perubahan.

               
(dipublikasikan Mei-Juni 2019)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase