Pemimpin dan Ujian
Hari-hari belakangan ini kita
disuguhi peristiwa demi peristiwa yang menguji kemampuan kita untuk memilih
pemimpin. (Dan dalam setiap ujian, kita tentu diminta untuk bersabar). Akan
tetapi, sejatinya, itu adalah ujian kepemimpinan dari masing-masing kontestan
yang sedang berlaga mendapatkan hati masyarakat. Jadi ringkasnya, itu adalah
ujian juga buat kita semua.
Pemimpin adalah orang yang akan diserahi tanggung jawab untuk
memutuskan cara terbaik dalam memenuhi kebutuhan rakyat banyak. Ketika sudah menentukan
pilihannya, pemimpin juga diharapkan untuk berani menerima konsekuensi dan mengupayakan
cara solutif jika pilihannya itu ternyata tidak tepat, bahkan tidak
berhasil dipenuhi.
Sebelum memutuskan, seorang
pemimpin tentu memiliki visi yang tidak dimiliki banyak orang. Juga
berkontemplasi, dengan cara yang bisa jadi tidak sama dengan banyak orang.
Semuanya itu mungkin bisa diwakilkan dengan kata-kata “mempertimbangkan secara
seksama”.
Karena sudah melalui tahap tersebut, tidaklah elok jika sebuah keputusan
apalagi yang baru saja dilansir kemudian diralat hanya karena ada desakan dari
sejumlah pihak. Meralat atau menarik kembali keputusan yang baru dikeluarkan
karena desakan pihak yang merasa dirugikan atau keragu-raguan dari dalam diri hanya
akan membuat kesan plin-plan melekat
pada diri si pemimpin.
Apalagi jika keputusannya itu
dianulir karena ada tekanan dari pihak lain yang merasa dirugikan dan mendesak
agar keputusannya itu diubah. Jika itu yang terjadi maka ia hanyalah setitik
subordinat, tidak pantas disebut sebagai pemimpin.
Pemimpin memang tidak sama dengan
orang kebanyakan, karena dia mempunyai gifted
skill and mind, yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Karena itulah banyak
orang-orang bijak yang mengatakan, dengan memiliki sifat itulah pemimpin kerapkali
merasa kesepian, dan sering memerlukan waktu sendirian untuk berkontemplasi. Pemimpin
itu seperti elang dan ia tidak pernah terbang berkelompok. Eagles never flly in flocks.
Ya, elang seringkali menjadi
hewan yang menjadi perumpamaan seorang pemimpin. Hal itu tidak bisa dilepaskan
dari sifat-sifat yang dimiliki elang yang mewakili sifat kepemimpinan. Ketika
terbang tinggi, hewan itu dinilai memiliki kemampuan melihat masalah secara
komprehensif dengan dengan banyak dimensi sehingga memiliki solusi yang
komprehensif dan multidimensi pula.
Elang memang memiliki visi yang
kuat (strong vision) yang mana
pandangannya bisa fokus sampai 5 kilometer dari atas awan. Meskipun banyak
hambatan dalam melihat mangsanya, elang tidak akan kehilangan fokus kepada
titik pandangannya itu.
Elang adalah
satu-satunya burung yang menyukai badai. Ketika awan-awan gelap berkumpul sang
burung malah akan merasa senang karena gelombang badai akan mengangkat sayap
elang lebih tinggi lagi.
Beberapa waktu
lalu kita telah melewati momen untuk memilih pemimpin yang akan menjalankan
roda pemerintahan dalam lima tahun ke depan. Pemilihan itu memang bukan untuk
memilih elang, namun tidak ada salahnya mengambil pelajaran dari hewan
tersebut.
Kini semua
sudah memilih, semua sudah menumpahkan preferensinya tentang pemimpin di
pemilihan umum April lalu. Sekarang yang tinggal hanya harapan agar pemimpin
yang terpilih nanti bisa menjadi pemimpin yang adil dan cerdas, bukan pemimpin
yang curang dan kekanak-kanakan.
Kita juga
tentu berharap dipimpin oleh seseorang yang bisa independen dan merdeka bukan
subordinat dari siapapun. Akan tetapi jika harapan kita ternyata belum
terwujud, itu artinya kita memang diminta untuk kembali bersabar... karena ini
adalah ujian.
Komentar