Paku Komunikasi
Komunikasi adalah sebuah proses menyampaikan pesan dari
pihak yang disebut penyampai pesan kepada penerima pesan. Dalam komunikasi,
biasanya si penerima pesan akan melihat keseluruhan proses komunikasi yang
disampaikan penyampai pesan, tidak cuma kata-kata, tapi juga bahasa tubuh dan
ekspresi wajah. Singkatnya, gaya komunikasi si komunikator.
Gaya berkomunikasi seseorang
adalah cerminan kepribadian mereka yang terbentuk dari kebiasaan
bertahun-tahun. Akan tetapi bagi seorang pejabat publik, biasanya ada tim
pengarah komunikasi agar pesan yang disampaikan tidak salah arah dan lebih
efektif menyentuh audiens.
Jika melihat gaya komunikasi
pejabat yang terlihat oleh publik akhir-akhir ini ada kesan yang cukup jelas
bahwa ada yang ‘salah’ dengan gaya komunikasi mereka. Publik menangkap kesan
ada ketidakkonsistenan dalam pernyataan-pernyataan mereka menanggapi hal-hal
yang menyangkut urusan orang banyak.
Misalnya, ketika menanggapi
kebijakan Amerika Serikat yang akan membuat aturan yang bakal mempersulit
ekspor Indonesia, Menteri yang terkait dengan urusan perdagangan mengatakan
bahwa kebijakan itu wajar dilakukan oleh negara tersebut. Sang Menteri pun
menambahkan agar pengusaha Indonesia tidak perlu khawatir atas kebijakan yang
akan mempersulit barang-barang ekspor kita ke negara itu.
Atau yang lain. Ketika melihat
harga sebuah komoditas atau kebutuhan pokok masyarakat melonjak naik, maka Menterri
terkait akan langsung menunjuk faktor penyebab, yang bahkan tidak bisa diterima
logika yang wajar. Misalnya mengatakan bahwa “harga telor naik karena adanya
pagelaran Piala Dunia di Rusia.”
Atau yang lebih nyelekit lagi, ketika harga daging sapi
melonjak tinggi, Menteri Pertanian mengatakan agar masyarakat beralih
mengonsumsi keong sawah.
Atau ketika menyaksikan nilai
tukar rupiah terus melorot dan mendekati level terendahnya saat krisis moneter
dulu, maka sang pejabat akan mengatakan bahwa di negara lain pelemahan kurs malah
ada yang lebih parah. Sembari menambahkan bahwa nilai tukar kita sedang menuju keseimbangan
baru. Dan meyakinkan kita semua agar tidak perlu khawatir.
Bahkan ada yang lebih ironis, ketika
sekelas Menteri Keuangan mengatakan bahwa pelemahan rupiah membawa dampak
positif dengan adanya tambahan dalam anggaran negara. Publik lantas menjawab, “Jika
benar pelemahan rupiah berdampak positif buat anggaran, maka lebih baik nilai
tukar rupiah dibiarkan saja melemah terus atas dollar AS.”
Gaya komunikasi seperti itu
sejatinya akan kita anggap lumrah jika diucapkan oleh seorang warga biasa yang
sedang bercakap-cakap di warung kopi, di pos-pos keamanan lingkungan atau di
selasar-selasar kantor kelurahan atau balai desa. Bukan oleh pejabat-pejabat
yang kata-katanya akan menjadi acuan publik dan memiliki dampak luas.
Pada prinsipnya komunikasi adalah
proses yang tidak bisa diulang lagi. Artinya, jika pesan sudah disampaikan maka
ia tidak bisa ditarik kembali. Dengan kata lain, sekali kata diucapkan tidak
bisa diulang untuk kedua kali dengan makna dan arti serta dampak yang sama. Irreversible. Seorang penyampai pesan,
harus memahami pentingnya bahwa pesan komunikasi itu irreversible. Seorang pejabat sekelas Menteri atau Presiden sudah
sepatutnya memahami prinsip itu.
Perkataan seseorang –yang
menyakiti orang lain, ibarat paku yang ditancapkan ke atas kayu. Makin tidak
terkontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya, makin punya kemungkinan ia
menjadi paku bagi perasaan orang lain. Mungkin suatu saat dia sadar lalu
meminta maaf. Akan tetapi rasa sakit itu masih berbekas, seperti bekas tancapan
paku di kayu. Bekas itu akan tertinggal dalam waktu yang cukup lama.
(dipublikasikan Juli 2018)
Komentar