Respons dan Kualitas Pemimpin



Untuk melihat kualitas pemimpin, salah satu caranya adalah dengan melihatnya ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat. Terutama yang diutarakan oleh bawahannya di depan umum. Sebenarnya bukan untuk mendebat, tapi si bawahan hanya menyampaikan pikirannya saja yang kebetulan berbeda dengan si pemimpin.
Sekilas cara ini sangatlah riskan untuk menilai kualitas pimpinan karena banyak faktor yang akan mempengaruhi respons dan cara dia menyikapi hal itu. Akan tetapi, setidaknya apa yang dia katakan dalam merespons hal itu akan menunjukkan sisi kepemimpinan dan sifat pribadi yang selama ini tertutupi.
                Jika ketika menerima pendapat yang tidak sejalan dengan dirinya, pimpinan itu tersinggung kemudian mengungkapkannya dengan nada kemarahan dan mengeluarkan kata-kata menyakitkan meski tidak berteriak. Maka setidaknya ia bukan tipe pemimpin yang bisa mengendalikan kemarahan.
                Malahan jika kemarahannya itu kemudian dikaitkan dengan gaji yang didapatkan oleh bawahannya yang mendebat, dengan menghardik “Siapa yang menggaji kamu?” bisa dipastikan ia bukanlah seorang pemimpin. Melainkan hanya seorang boss.
Yang kita butuhkan akhir-akhir ini adalah pemimpin yang bisa mengendalikan emosi. Pemimpin yang kata-katanya –ketika berhadapan dengan argumen yang berseberangan dengan dia tidak menyakitkan, meski dia tersinggung, bahkan meski ada pihak yang memang berniat menyinggungnya. Kita membutuhkan respons yang positif meski dia sedang diserang dengan pendapat atau opini publik yang mendesak dia.
Si pemimpin bisa saja mengambil keputusan singkat, dengan menjatuhkan lawan bicaranya dengan maksud agar wibawanya tidak luntur karena ada bawahan atau orang lain yang tidak sependapat dengan dia. Karena dia memiliki kekuasaan untuk itu. Akan tetapi sekali lagi, hal itu akan membuat kualitas pemimpin itu menjadi sedikit berkurang.
Di atas semua itu, seorang pemimpin yang efektif harus mengenal kekuasaan atau power apa saja yang tersedia untuk dikelolannya sepanjang menjadi seorang pemimpin. Power didefinisikan sebagai potensi seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan perintah atau melakukan sesuatu demimencapai tujuan atau hasil yang diinginkan. Sedangkan influence itu merupakan efek tindakan seseorang terhadap sikap, nilai, kepercayaan, dan tindakan dari orang lain.
Ada perbedaan antara hard-power versus soft-power. Hard power merupakan kekuatan yang sebagian besar berasal dari posisi  atau jabatan otoritas seseorang. Sedangkan soft-power merupakan kekuatan yang didasarkan pada karakteristik pribadi serta hubungan inter-personal.
Seorang pakar organisasi dan juga profesor manajemen Richard L Daft mengatakan ada lima jenis kekuasaan yang tersedia bagi seorang pemimpin. Pertama Legitimate Power, merupakan kekuasaan yang berasal dari posisi formal dia dalam sebuah organisasi. Kedua, Reward Power, merupakan kekuasaan yang berasal dari kewenangan atau otoritas untuk memberikan imbalan pada orang lain. Ketiga, Coercive Power, merupakan kekuasaan yang berasal dari kewenangan atau otoritas untuk memberikan hukuman atau merekomendasikan hukuman.
Kelima, Expert Power merupakan kekuasaan yang berasal dari pengetahuan atau keahlian khusus seorang pemimpin. Dan kelima Referent Power, merupakan kekuasaan yang timbul dari karakteristik personal seorang leader yang dapat membangkitkan kekaguman dan rasa hormat followers sehingga mereka ingin meniru pemimpinnya.
Kembali ke soal pemimpin ketika didebat bawahannya, ketika respons ketersingungannya yang keluar adalah hardikan, sekali lagi dia bisa jadi bukan pemimpin, melainkan cuma boss, atau bahkan lebih rendah dari itu.


(dipublikasikan Jan-Feb 2019)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase