Tren, Milenial, dan Kopi
Sudah sejak lima tahun terakhir ini, sejatinya, ada tiga isu
penting yang sudah dimahfumi oleh pelaku di industri jasa keuangan. Isu yang
menjadi tren global industri keuangan itu adalah digitalisasi, globalisasi dan
urbanisasi.
Digitalisasi sudah kita rasakan
setiap hari. Kehadiran Internet yang sudah menyebar ke hampir semua lini
kehidupan, bahkan sudah mengubah wajah industri keuangan dengan maraknya
layanan digital.
Kedua adalah globalisasi. Saat ini dunia sudah menjadi 24 hours market, artinya tidak pernah
berhenti berputar terutama mengenai bisnis, informasi dan juga persaingan. Ketiga adalah urbanisasi. Hampir semua
lembaga keuangan global sangat memperhatikan perkembangan kota-kota besar
dunia. Menurut mereka, kota besar akan memegang peranan makin penting terutama
dalam industri keuangan, karenanya the
world would becoming a network cities.
Namun demikian ketika diperas
lagi menjadi satu, isu yang paling penting di tengah perkembangan saat ini
adalah anak-anak muda atau biasa disebut generasi milenial. Tidak ada
perbincangan yang luput dari mengikutsertakan peran dan pentingnya anak-anak
muda ini.
Anak-anak
muda berumur antara 15-30 tahun, menurut data Badan Pusat Statistik, berjumlah
32 ,9 juta jiwa, atau mencapai 12,5 persen dari total populasi yang pada 2018
diperkirakan 265 juta jiwa. Penduduk usia 20-34 tahun atau yang termasuk usia
milenial, berjumlah yang besar yaitu 90 juta. Sementara penduduk yang masih berada
pada rentang (0-14 tahun) mencapai 70,49 juta jiwa atau sekitar 26,6 persen
dari total populasi. (Bayangkan bahwa Indonesia akan didominasi oleh anak-anak
usia 15-30 tahun dalam belasan tahun ke depan).
Sejatinya
itulah kekayaan potensial dari Indonesia. Anak muda adalah agen perubahan.
Berapa banyak kejayaan sebuah negara yang didongkrak oleh anak-anak muda. Dalam
skala bisnis, berapa perusahaan dan merek-merek yang tiba-tiba melesat karena
menjadi kegemaran anak muda, atau didongkrak kembali keberadaannya oleh
anak-anak muda ini. Mereka mungkin menamakannya tren, bahkan merekalah yang
membuat tren itu.
Dalam
Buku Tipping Points, karangan Malcolm Gladwell, diceritakan bagaimana sebuah
merek yang nyaris masuk liang lahat tiba-tiba bangkit bahkan menemukan kembali
kejayaannya gara-gara ulah iseng sekelompok anak muda yang ingin tampil beda.
Merek yang beruntung itu adalah Hush Puppies.
Akhir tahun 1994 Wolverine,
perusahaan yang membuat Hush Puppies, sudah mempersiapkan ‘pemakaman’ bagi merek itu dengan
merencanakan penghentian produksi sepatu kulit klasik Hush Puppies. Namun niat
itu urung dilaksanakan lantaran mereka melihat sebuah keajaiban. Beberapa
remaja iseng yang ingin tampil beda memakai sepatu Hush Puppies yang sudah
ketinggalan jaman. Keisengan ini diikuti oleh remaja lainnya sampai kemudian
menyebar tak terkendali.
Toko sepatu loak yang menjual
Hush Puppies diserbu pembeli. Seorang perancang adi busana bahkan menjadikannya
salah satu pelengkap koleksi musim semi. Pesanan sepatu baru pun mendadak
mengalir ke pabrik Wolverine bagai air bah. Hanya dalam kurun dua tahun Hush
Puppies kembali sehat wal afiat.
Sebuah tindakan kecil tanpa sengaja itu telah menyelamatkan sebuah merek besar
dari kematiannya dan anak-anak muda lah yang menjadi penyebabnya.
Kini di Indonesia, menjamur
bisnis kedai kopi. Dari yang kelas hotel berbintang, maupun kedai-kedai pinggir
jalan. Hadirnya tren ini tidak terlepas dari kegemaran anak muda untuk minum
kopi. Memang tidak jelas siapa yang memulai tren, apakah anak-anak muda yang
membuat tren itu atau anak-anak muda itu yang mengikuti tren. Namun yang jelas
kini kedai-kedai kopi digemari oleh anak-anak usia tanggung itu (meski tidak
semua yang nongkrong di sana memesan
kopi).
Salah satu dampak yang bisa
dikelola adalah mengorbitkan kopi asli Indonesia ke publik agar menjadi tren
dan gaya hidup. Selepas itu bisa jadi gelombang besar pembelian kopi asli
Indonesia akan terjadi.
Akan tetapi ada seorang Menteri
yang meminta agar milenial mulai mengurangi jajan kopi. Bagaimana ini?
(dipublikasikan Sept-Okt 2018)
Komentar