Terbaik
Tahun baru memang (harus) selalu diawali dengan optimisme
baru. Optimisme baru bisa dimulai dengan semangat baru. Dan semangat baru itu bisa
disulut dengan bahan bakar prestasi bagus yang telah dicapai di tahun
sebelumnya. Terlihat sangat logis, dan memang itu yang harus dilakukan untuk
berbuat lebih baik dan mencapai prestasi lebih baik lagi.
Oleh karena itu, berita awal
tahun yang menyebut Presiden Joko Widodo dinobatkan menjadi pemimpin terbaik di
Asia Pasifik, bisa dilihat dari konteks tersebut. Tak tanggung-tanggung, yang
menerbitkannya adalah Bloomberg, sebuah kantor berita ternama dan bisa dibilang
memiliki reputasi baik.
Berita soal Jokowi yang menjadi
pemimpin terbaik sejatinya bisa kita kritisi dengan membuka naskah atau
wawancara asli dari media global tersebut. Atau ketika kita memiliki
keterbatasan dalam memahami bahasa negara lain, setidaknya kita bisa mencari
sumber lain yang memberitakan hal yang sama.
Kita, akan tetapi memilih jalan
pintas. Di zaman digital ini sepertinya sudah menyiapkan pentahbisan bagi
seseorang yang bisa menulis atau membagikan berita paling cepat. Akurasi dan
fakta menjadi nomor sekian, karena yang penting adalah kecepatan. Maka dalam
hitungan menit, berita itu sudah menjadi koor di media-media sosial.
Padahal, sumber informasi awal,
yaitu Bloomberg, bukan berbicara soal siapa yang "Terbaik" dalam
artikel yang di-publish dalam Bahasa Inggris itu. Judulnya berbunyi:
"Who's Had the Worst Year?". Dalam bahasa kita sehari-hari artinya
adalah: Siapakah yang mengalami tahun terburuk kali ini?
Perekonomian, seperti yang kita
rasakan akhir-akhir ini terus bertambah berat. Bahkan kebijakan Presiden
Indonesia ketujuh itu boleh dibilang belum ada yang mampu membuat keadaan itu
sedikit lebih baik. Pertumbuhan ekonomi memang bisa tumbuh positif di level 5
persen.
Akan tetapi hal itu bukan hal yang harus dibanggakan secara
berlebihan, dan tidak lantas membawanya menjadi pemimpin terbaik. Bloomberg
tahu betul itu. Karena, angka ini jika dibandingkan dengan apa yang sudah
dilakukan rezim sebelumnya, yaitu rezim Susilo bambang Yudhoyono, masih belum
ada apa-apanya. Presiden yang sering dipanggil SBY pernah membawa Indonesia ke
angka pertumbuhan 6 persen.
Mungkin saya berlebihan jika
membandingkannya dengan rezim SBY di masa lalu. Namun, jika 5 persen dianggap
terbaik, lalu bagaimana dengan Filipina yang pertumbuhannya tembus 6 persen.
ternyata Bloomberg juga tidak pernah menyebut negara jiran itu sebagai terbaik
dan menobatkan pemimpinnya sebagai pemimpin terbaik.
Tapi ya begitulah. Hal-hal
seperti itu nyaris terjadi di negeri ini. Setidaknya hal itu mengindikasikan
dua hal. Pertama banyak dari kita
yang tak mau membaca lebih dalam sumber yang dibagikan melalui media sosial.
Kita hanya peduli dengan judulnya. Kecenderungan itulah yang sering
dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu demi kepentingannya sendiri dengan
memberi judul bombastis.
Kedua, banyak dari kita memiliki untuk menjadi tidak adil
menghadapi kebenaran. Entah apa namanya, namun kita –termasuk saya, bisa jadi
hanya mempercayai sesuatu yang sesuai dengan preferensi kita dan lalu secepat
kilat menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Sebaliknya, segala sesuatu yang
tidak sesuai dengan preferensi kita, akan segera kita anggap bohong atau
istilah kerennya saat ini hoax.
Kini berita bohong alias hoax
sangat massif, hingga memaksa pemerintah sekarang mengeluarkan kebijakan untuk
mengikisnya. Akan tetapi, jangan sampai yang terjadi malah pemerintah sendiri yang
mempercayai berita hoax, atau lebih parah, memproduksinya sendiri.
Komentar