Disrupsi
Semua yang ada di sekeliling kita tampaknya berubah begitu
cepat. Persiapan atau antisipasi yang sudah kita kantongi juga makin tidak lagi
relevan, karena cepatnya perubahan. Yang mendesak dan paling tepat dilakukan
adalah bergerak dan menyesuaikan. Seperti yang terjadi di bidang ekonomi. Cara
kita bertransaksi sekarang ini sudah banyak berubah dibanding yang pernah kita
lakukan lima sampai sepuluh tahun lalu.
Bahkan seringkali kita belum
sempat menyesuaikan diri dengan perubahan, sudah ada perubahan yang lain dan
menyusul yang lain lagi. Hal itu makin membuat rencana-rencana dan
persiapan-persiapan yang kita buat menjadi out
of date. Mungkin inilah era yang dinamakan ekonomi disruptif, setelah
sebelumnya berkembang istilah teknologi disruptif.
Kemunculan era ini tidak bisa
dilepaskan dari fenomena berkembangnya teknologi digital ketika Internet telah menjadi
kebutuhan yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi
digital itulah yang pada akhirnya menciptakan sharing economy.
Untuk istilah yang terakhir itu,
Financial Times memberi definisi, sebagai suatu bentuk ekonomi yang disruptif
yang melepaskan (unleashed) sumber-sumber
suplai baru. Artinya sharing economy
telah menambah sumber-sumber suplai baru. Contohnya, jika sebelumnya suplai
penginapan hanya dikuasai hotel atau tempat-tempat sejenis, kini setiap rumah
bisa menawarkan kamarnya untuk disewakan dengan adanya AirBnb. Sebelumnya
suplai taksi terbatas hanya pada taksi-taksi resmi, namun kini suplainya
bertambah dengan adanya Uber, Grab Bike, atau Go Car.
Buat perusahaan, perubahan yang
begitu cepat ini tidak hanya menjadi sebuah tantangan, tetapi bisa juga menjadi
peluang. Setidaknya hal itu akan menerbitkan dua peluang, menurut kontributor
Forbes, Jeff Boss. “Keindahan dari ekonomi disruptif, pertama akan membuat
perusahaan mendefinisikan kembali bagaimana dan kenapa mereka bekerja.
Kesadaran itu akan mengantarkan organisasi kepada peluang yang kedua, menemukan
cara yang lebih baik untuk melayani karyawan yang memilih untuk bekerja di sana
karena mereka percaya pada tujuan perusahaan.”
Disadari atau tidak, jika
pengelola perusahaan menerapkan hal itu, lanjut Boss, respons terhadap disrupsi
adalah seperti mengakhiri kondisi X dan selanjutnya akan melahirkan kondisi Y. Nah, kondisi Y ini harus lebih baik dari
sebelumnya, sebelum ada disrupsi kembali.
Kini dunia tengah menghadapi
disrupsi yang tidak bisa dibilang enteng, ketika Donald Trump terpilih menjadi
Presiden AS. Sejak dinobatkan sebagai calon partai pada bulan Juli, Mr Trump
telah mengumbar kebencian terhadap pihak yang dianggapnya sebagai ‘bukan
Amerika’. Muslim, imigran, bahkan orang-orang berkulit berwarna menjadi sasaran
akibat retorika abrasif dan kontroversi yang telah mendominasi kampanye Trump.
Di Indonesia, disrupsi politik
juga tengah terjadi. Kegagalan pemerintah untuk mendorong rasa keadilan akan
membawanya ke tubir risiko. Hampir seluruh komponen bangsa kini membahas
masalah penistaan agama oleh pejabat Gubernur DKI Jakarta. Semua sibuk membahas
itu dan tak sadar bahwa energi yang seharusnya bisa dipakai untuk hal berguna, habis
percuma.
Komentar