Mengeluh

Seorang petugas kebersihan yang biasanya menyapu daun-daun yang berserakan di halaman sebuah kantor, sesekali mengeluh. “Setiap hari pekerjaanku hanya membersihkan daun-daun ini. Kalau saja pohon-pohon di sini ditebangi semuanya, tentu pekerjaanku akan lebih ringan.”
Banyak di antara kita yang mengeluhkan pekerjaan atau bahkan meningkatnya kapasitas pekerjaan yang harus kita selesaikan. Kita seringkali mengeluh, “andai saja hari ini tidak ada kewajiban untuk membuat laporan tentu saya akan lebih santai, dan bisa cepat pulang.”
Akan tetapi tahukah kita jika nantinya khayalan itu terwujud maka kita sendiri yang akan merugi? Jika pohon-pohon di halaman kantornya ditebang dan tidak ada lagi daun-daun kering yang tertiup angin berserakan, maka apakah perusahaan akan membutuhkan penyapu halaman? Jika tidak ada laporan yang harus dibuat seorang karyawan, maka buat apa perusahaan meng-hire Anda?
Kita tidak sadar, seringkali, bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Akan tetapi seringkali kita mengeluhkan kondisi yang saat ini kita jalani. Mengeluh juga telah menjadi bagian dari kehidupan saat ini ketika kebebasan berbicara (baca: menulis) di media sosial tengah mencapai tingkat yang tak pernah dicapai sebelumnya.
Orang seperti tidak henti-hentinya mengeluh, dan mengeluhkan apa saja di medsos. Dari soal hubungan kekasih, rumah tangga, fasilitas umum hingga masalah agama. Seringkali keluhan ini bertemu dengan netizen lain yang mengomentari sehingga akhirnya muncullah perdebatan. Padahal jika mau jujur, banyak di antara kita yang tidak paham dengan apa yang diperdebatkan.
Mengeluh juga bisa berganti wujud menjadi menggerutu, mengomel dan mem-batin (yang negatif tentunya). Perilaku itu bisa muncul karena didorong oleh prasangka buruk, dan perasaan bahwa orang lain di luar diri kita tidak pernah berbuat benar.
Jika saat ini kita menilai pertumbuhan ekonomi yang bertengger di level 5,01 persen sebagai kondisi yang melempem dan belum ada kemajuan, bisa jadi kita sedang mengeluh. Jika saat ini kita melihat pemerintah seolah tidak pernah benar-benar berhasil dalam mendorong pertumbuhan seperti yang dijanjikan, bisa jadi kita tengah menggerutu.
Akan tetapi, mungkin kita belum sadar bahwa mengeluh atau menggerutu tidak akan menyelesaikan masalah malah hanya akan menambah masalah. Sebab, menurut sebuah penelitian semakin kita banyak mengeluh, maka rasa cemas kita kian bertambah. Dan rasa cemas yang muncul itu merupakan wujud dari gangguan jiwa. Semakin mengeluh makin parah gangguan jiwa yang ada.
Kita bisa saja merespons sebuah gelas yang terisi separo air dengan mengatakan bahwa air itu tidak bermanfaat sama sekali karena tidak bisa menghilangkan rasa haus kita. Atau tidak akan bisa membersihkan kendaraan kita. Tetapi alih-alih merespons demikian, ada baiknya kita mengatakan bahwa separo air dalam gelas itu cukup untuk membasahi kerongkongan kita. Atau cukup untuk membuat adem tempat duduk di atas motor kita yang panas tertimpa matahari seharian.

Jadi dari pada mempermasalahkan soal pertumbuhan yang tetap melempem namun kita tidak punya andil untuk memperbaikinya, ada baiknya kita tetap menyapu daun-daun yang berserakan di halaman. Atau mungkin kerjakan tugas yang ada di depan kita secara benar, membuat laporan misalnya. Kalau tidak bisa jadi kita tengah mendapat gangguan jiwa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase