Baru
Sesuatu yang baru biasanya selalu
diekspektasikan dengan sesuatu yang lebih baik, lebih berkualitas. “Yang baru”
itu, akan tetapi, biasanya juga akan mendapatkan beban tambahan: ekspektasi
besar karena diperbandingkan dengan yang lalu. Seperti halnya waktu, “yang
baru” itu selalu diperbandingkan dengan masa lalu, agar masa depan bisa menjadi
lebih baik dari masa-masa itu. Perbandingannya biasanya menggunakan sebuah alat
yaitu perolehan, achievement, atau
kesuksesan.
Akan tetapi “yang baru” itu biasanya
hampir selalu dekat dengan kenyataan, karena ia selalu merepresentasikan masa
kini, masa sekarang. Dan masa sekarang itu menjadi penting untuk membangun masa
yang akan datang, masa yang seharusnya lebih baik, lebih berkualitas.
Memang tidak selamanya ia yang
baru itu pasti lebih baik, bahkan tidak seluruhnya ia lebih baik. Namun, yang
baru itu selalu membawa harapan bahwa ia lebih baik, bisa mendekatkan kita ke
tempat dan kondisi yang lebih baik.
Sebagaimana yang dihadapi oleh
Otoritas Jasa Keuangan yang akan berganti pengurus dengan kandidat hampir
semuanya merupakan wajah-wajah baru, termasuk nakhodanya. Padahal kalau mau
jujur, komisioner yang lama bisa dibilang telah melakukan pekerjaan yang hebat
di masa-masa pertama lembaga itu melakukan pengawasan di sektor keuangan.
Suasana kerja yang berlandaskan meritorikrasi telah berhasil disusun dan
menjadi pondasi yang kuat buat pegawai.
Bayangkan dalam waktu hanya empat
tahun, pimpinan OJK cukup berhasil menyatukan spirit karyawan yang berasal dari
BI dan Kemenkeu. “Sekarang mereka semua adalah pegawai OJK, memegang spirit
OJK,” begitu Muliaman D Hadad pernah bilang sekitar setahun lalu. Padahal, itu
pun harus dihitung pada saat pegawai pengawasan dari BI baru bergabung awal
2014.
Calon nakhoda yang baru tentu
akan menghadapi dan menjalani tantangan yang berat dalam membawa lembaga itu
menjalankan perannya sebagai pengawas yang efektif. Bukan hanya dia tidak
mengalami saat-saat awal pembentukan esprit
de corps dari OJK, tetapi juga karena dia adalah pihak luar yang sebelumnya
berada di ruang yang lain.
Apalagi jika mempertimbangkan
bahwa sang nakhoda baru memiliki ego yang berbeda dari spirit yang sudah tumbuh
dan berkembang di internal otoritas. Dia bisa saja memilih solusi yang bijak yaitu
‘mengalah’ terlebih dahulu pada sistem yang ada, dan baru memutuskan perubahan
jika memang dipandang perlu.
Namun alih-alih mengalah, ada juga pemimpin yang merasa harus segera
melakukan pembenahan begitu dia sampai di tempat baru. Visioner, menjadi alasan
yang kerap dipakai. Tidak salah memang.
Kedua hal tersebut adalah sebuah
keniscayaan di OJK nantinya ketika Ketua Komisioner baru terpilih, dan kabinet
baru dilantik. Namun yang patut dijadikan pegangan adalah jangan sampai
pilihan-pilihan itu membuat tugas pengawasan menjadi terganggu. Karena sekecil
apapun kerikil yang ada dalam sepatu otoritas tetap akan memberikan dampak yang
besar pada industri keuangan. Apalagi jika melihat fenomena industri keuangan
saat ini yang selalu berubah dalam hitungan menit bahkan detik.
Yang baru memang datang untuk
mengkoreksi yang lama, hadir dan mempersembahkan yang lebih baik. tetapi yang
baru akan selalu dibandingkan dengan yang lama, dan itu menjadi pekerjaan sulit
ketika yang lama dianggap lebih baik. Beda cerita jika yang lama telah mengukir
hal negatif dalam prestasi dan kinerja.
Komentar