Jebakan
Dunia ini memang penuh ujian, dan jebakan. Soal ini, orang
Indonesia punya ketabahan yang luar biasa hingga pada akhirnya muncullah apa
yang sering diistilahkan oleh orang Jawa dengan “nrimo ing pandhum”.
Saat ini Indonesia tengah terjebak
dalam pertumbuhan 5,01 persen. Saya bilang terjebak, karena angka pertumbuhan
pada triwulan sebelumnya sama persis dengan angka itu. Jadi saya bilang, kita seolah-olah
terperangkap tidak bisa tumbuh lebih tinggi dari angka itu. Padahal dilihat
dari potensinya, Indonesia bisa lebih dari itu. Malahan banyak pengamat yang
bilang, pertumbuhan di angka tersebut otomatis sudah bisa dapatkan meski kita
tidak berbuat apa-apa, alias ekonomi dalam keadaan auto-pilot.
Perihal pertumbuhan yang stagnan
itu, kita juga bisa mengaitkannya dengan jebakan yang lain: jebakan pendapatan
kelas menengah (middle-income trap).
‘Mesin’ konsumsi yang selalu dibanggakan menjadi motor pertumbuhan, ditengarai
kini tengah ‘ngadat’. Dalam bahasa resmi dikatakan, daya beli melemah. Bukti
yang bisa digelar adalah, menurunnya pertumbuhan perdagangan ritel baik modern
maupun tradisional (bahkan pada Lebaran lalu, yang biasanya selalu melonjak,
angkanya turun), hingga penjualan otomotif dan juga perumahan.
Di tengah turunnya konsumsi,
simpanan masyarakat di bank malah naik, yang angkanya pada Mei 2017 sebesar 11
persen. Dan jika ditelusuri lebih dalam jumlah simpanan yang naik adalah
deposito-deposito dalam besaran Rp1 miliar ke atas. Menurut data LPS, bahkan,
jumlah rekening simpanan dengan nominal Rp2 miliar terus meningkat.
Dengan pendapatan per kapita
sebesar 3.600 dollar AS per tahun dan jumlah penduduk mendekati 250 juta jiwa,
ekonomi Indonesia saat ini dinilai sudah masuk middle income country. Sebuah negara dikatakan terjebak oleh
pendapatan di kelas menengah apabila pendapatan per kapita yang sudah berada di
kisaran 2.000 sampai 7.500 dollar AS, tidak bisa didongkrak lagi karena
ketidakmampuan negara untuk mendorong pendapatannya lebih dari itu. Dengan kata
lain, pendapatannya stagnan alias terperangkap. Ketika pendapatannya tidak bisa
keluar dari batas atas 7.500 dollar AS, maka artinya negara itu tengah masuk
jebakan.
Memang terlalu dini untuk
mengatakan bahwa kita tengah menuju ke jebakan itu, hanya dengan melihat
pertumbuhan yang mandeg sepanjang dua triwulan. Akan tetapi, kalau melihat daya
beli masyarakat menengah ke bawah yang terus terkikis karena kenaikan
harga-harga administered, sementara menengah ke atas lebih senang
menyimpan uangnya di bank, ada alarm yang seharusnya berbunyi.
Daya beli masyarakat kelas bawah
jelas sudah terkuras habis dan tidak bisa diharapkan lagi. Harga bahan bakar,
tarif listrik, tarif angkutan umum, dan kebutuhan lain yang sudah meningkat
jadi alasannya. Sementara mengharapkan kelas atas untuk mendongkrak daya beli
tampaknya adalah hal yang sulit karena sekarang ini mereka lebih memilih
menunggu dan menaruh duitnya di bank.
Akan kondisi ini, pemerintah
lebih baik menyadari akan adanya bahaya, risiko, ancaman, atau apapun namanya
itu, sehingga bisa menyiapkan diri mengantisipasi dan mengatasinya. Ketimbang
menafikan dan mengabaikan bahkan mengingkari fakta-fakta yang sudah di depan
mata, sambil terus mencari kambing hitam, yang pada akhirnya membuat masalah
yang ada tidak terselesaikan dan cenderung didiamkan.
Mungkin pemerintah merasa kalau
melakukan demikian, nantinya publik lupa dan persoalan itupun tenggelam dengan
sendirinya. Sudah menjadi kebiasaan di Indonesia, jika ada masalah yang tidak
bisa diselesaikan, maka diamkan saja, karena pada akhirnya nanti juga selesai
sendiri atau dilupakan.
Akan tetapi, kecenderungan itu,
menurut saya, justru akan membawa kita semua ke dalam sebuah perangkap yang
justru akan membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kita, pada akhirnya,
akan kalah dengan masalah yang telah berubah menjadi lebih besar dan dahsyat,
yang sebenarnya bisa kita kalahkan saat ia masih kecil dan lemah.
Komentar