Pokemon
Sebulan ini (Juli 2016) kita heboh dengan
kemunculan game baru: Pokemon Go. Permainan sontak menjadi viral karena sejak
satu pekan setelah Nintendo dan Niantic Labs merilis game tersebut lewat salah satu media sosial,Pokemon Go telah diluncurkan
di 26 Negara di Eropa. Permainan ini mengajak para penggunanya yang disebut trainer untuk mencari monster virtual yang
sudah disebar dan berseliweran di berbagai tempat, dengan mengaktifkan kamera
di ponsel pintarnya.
Meski di Indonesia permainan ini
belum resmi ditawarkan –setidaknya hingga pertengahan Juli ini sudah banyak
orang Indonesia yang memainkannya tentu dengan mengunduh aplikasi yang belum
disebut resmi. Berbagai dampak ikutan pun langsung muncul mengikuti kemunculan
permainan ini. Salah satunya adalah bisnis transportasi online. Kini banyak poke trainer yang memesan Gojek atau Grab Bike
hanya sekedar untuk mencari pokemon di jalan-jalan dan di tempat-tempat
tertentu yang disebut dengan poke stop.
Bahkan munculnya Pokemon di
tempat-tempat tidak terduga seperti café, butik, swalayan, dan sarana publik
membuat para pengusaha mulai melirik game itu untuk menjadikan tempat usahanya
obyek untuk mendapatkan pokemon. Di AS, fitur offline pokemon mulai banyak dimanfaatkan oleh berbagai toko untuk
menarik banyak pokemon ke dalam toko mereka sebagai poke stop atau tempat
menangkap pokemon.
Sebagai strategi bisnis tentu
pemilik toko memberlakukan syarat tertentu bagi Poke Trainer yang ingin berburu
pokemon di tokonya misalnya berbelanja. Hasilnya banyak pengunjung yang
berdatangan tak hanya untuk menangkap pokemon tetapi meningkatkan penjualan
atau paling tidak memberi ulasan di media sosial.
Pokemon Go juga memantik
kekhawatiran mengenai pertahanan nasional. Baru-baru ini Menteri Pertahanan Ryamizard
Ryacudu mengkhawatirkan bahwa permainan itu digunakan untuk memetakan objek
vital yang ada di Indonesia. Memang kekhawatiran itu beralasan mengingat
permainan itu mensyaratkan kamera ponsel yang selalu aktif, dan secara online
tentu terhubung ke penyedia dan penerbit aplikasi tersebut.
Namun demikian kekhawatiran
tersebut tidak terlalu ditanggapi publik yang mungkin tengah asyik menikmati
game terbaru itu. Malahan perhatian publik agak sedikit teralihkan akan ancaman
yang lain yang tak kalah serius: maraknya pekerja China yang mulai
berbondong-bondong datang ke Indonesia. Mengenai hal itu, perkembangan terakhir
menyebutkan mereka sudah mengajukan izin untuk mendatangkan dokter umum
langsung dari China, seperti yang sempat ramai di media sosial.
Berita itu mungkin sebentar lagi
juga dilupakan seiring dengan makin banyaknya pekerja-pekerja China yang datang
melalui berbagai pintu masuk di seantero Nusantara ini. Seperti dilupakannya
juga soal penangkapan imigran China yang mengebor tanah di area Bandara Halim
beberapa bulan lalu. Atau juga maraknya temuan imigran gelap China tanpa
identitas resmi, tanpa bisa berbahasa Indonesia dan Inggris.
Mungkin
kita baru sadar jika nantinya tiba-tiba pekerja-pekerja asing dari China makin
banyak mengisi pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh anak negeri dan memenuhi
petak-petak dan juga kompleks perumahan di Indonesia. Dan mereka tidak perlu
Pokemon Go untuk melakukan hal itu.
Komentar