Jadilah Tenang
“Di dunia yang ingar bingar ini, jadilah tenang”. Cuplikan
pariwara tersebut sempat sering muncul di televisi. Dan ketenangan memang
sangat dibutuhkan, terutama dalam zaman yang hampir semua orang merasa berhak
untuk berbicara bahkan berteriak. Zaman sekarang, terutama setelah informasi
makin deras mengalir seperti tidak terkendali, hampir semua orang merasa berhak
untuk berbicara dan merasa berhak berteriak-teriak.
Era Globalisasi, kemudian
kemunculan Internet, memang telah memudahkan praktik-praktik bisnis dan
melancarkan jalannya perekonomian. Perkembangan itu, akan tetapi, juga sudah mengubah
orang-orang menjadi makin berani bicara serta makin bebas bertukar informasi. Tidak
ada yang salah dengan itu.
Yang kita rasakan kemudian arus
informasi itu seperti tidak terbendung dan kita seakan tidak bisa menyaring
semuanya. Ibarat makan ikan bakar, kita tidak bisa membedakan lagi mana daging
yang enak dimakan dan tulang yang akan menyakiti kerongkongan. Parahnya lagi,
sebagian dari kita kini tak lagi peduli apakah informasi yang dikunyahnya itu
benar atau salah.
Sebagian lagi, masih kebingungan
memilih berita yang dianggap benar, ketika kebanyakan mereka tidak punya acuan
yang bisa jadi pegangan. Hanya sedikit yang sadar dan berusaha untuk berhati-hati menerima dan menanggapi informasi
yang menghampirinya.
Situasi itu bertemu dengan perkembangan
dunia sekarang ini, di mana segala standar (moral dan hukum) yang dulu dipakai
dan dijadikan acuan kini sudah bergeser. Sekarang sudah tidak terlalu sulit
kita menemukan, anak-anak berumur belasan memaki seorang bapak bahkan seorang
tokoh agama, meski hanya di media sosial. Sesuatu yang satu dekade lalu
merupakan hal yang cukup tabu, bahkan hanya lewat media surat. Sebaliknya,
banyak juga orang-orang yang merasa public
figur di dunia maya dan merasa tetap harus ditokohkan juga di sana.
Gesekan, ketersinggungan, hingga perpecahan akhirnya menjadi suara-suara
kebisingan yang mendominasi dunia maya.
Yang lebih parah lagi,
orang-orang yang melanggar hukum bisa ‘melawan’ dengan men-spin pendapat publik melalui kekuatan di balik layar media sosial
(baca: buzzer). Mereka bisa menyewa
kekuatan itu untuk mengarahkan pendapat publik. Buzzer adalah orang berpengaruh di media sosial (influencer) yang dipekerjakan untuk
mempromosikan tokoh tertentu.
Tak jarang, kelompok orang ini
memiliki puluhan akun medsos yang bertujuan untuk mempromosikan isu, dengan
menggenjot trending topic, memenuhi
kolom komentar website berita, dan
meramaikan grup medsos.
“Dengan tersedianya begitu banyak informasi,
seseorang hanya dapat berharap untuk mengetahui sebagian kecil dari satu bagian
kecil pengetahuan. Dan semakin penting untuk mengetahui keterkaitan segala
sesuatu,” kata Bobbi DePorter dan Mike Hernacki penulis buku Quantum Learning.
Salah
satu yang bisa kita lakukan sebagai publik, seperti kata dua penulis di atas,
adalah mengetahui segala keterkaitan dari
informasi yang ada. Di atas semua itu, semestinya semua orang berpegang teguh
apa yang dinamakan sumber utama (primary
source). Itu bisa berarti kitab suci, namun dalam bentuk yang lebih
subordinat bisa berarti undang-undang, aturan, norma atau bisa juga sumber
berita resmi.
Akan
tetapi, kini sumber berita resmi pun bisa kecolongan –bahkan tak jarang menjadi
buzzer itu sendiri, dalam menyampaikan informasi. Jika sudah begitu, yang bisa
kita lakukan adalah “...jadilah tenang”, seperti kata pariwara yang belakangan
sering muncul di televisi.
Komentar